Minggu, 08 Oktober 2017

Aku untuk Pendidikan

Nama saya Astri Rizka Restriani. Saya berasal dari keluarga sederhana. Saya anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertama saya sudah menikah, dan adik saya baru masuk sekolah menengah atas. Saya dan kakak kedua saya hanya berbeda satu tahun, sehingga dalam menempuh pendidikan saya mengekor pada kakak saya. Kakak saya berhenti satu tahun sebelum melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, saat itu saya masih duduk di kelas tiga sekolah menengah atas. Saat itu saya belum memikirkan apakah saya akan melanjutkan kuliah atau tidak, belum memikirkan jurusan apa yang harus saya pilih, belum memikirkan kedepannya saya akan seperti apa. Hal itu mungkin yang mengakibatkan saya pun ikut berhenti satu tahun sebelum saya melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

Satu tahun yang saya jalani saat itu bukanlah waktu yang singkat, karena dalam satu tahun itu saya tidak bekerja, jarang keluar rumah sehingga saya kurang bersosial dan kurangnya relasi. Walaupun begitu, saya tetap mengikuti perkembangan dan menambah wawasan lewat media televisi dan internet. Saya mulai berpikir mengenai masa depan saya, saya mulai mencari-cari tahu tentang perkuliahan, jurusan-jurusan yang cocok dengan saya. Ketika itu saya tertarik dengan jurusan Bimbingan Konseling, dimana saya dapat menjadi wadah bagi anak-anak yang membutuhkan arahan dan bimbingan dalam permasalahannya masing-masing, agar kejadian yang seperti saya alami tidak terulang kembali. Namun, saya mendapat hambatan izin dari orangtua untuk berkuliah di luar kota. Padahal hal tersebut merupakan impian saya sejak kecil untuk bisa berkuliah di luar kota. Saya pun memutar otak untuk dapat berkuliah, tapi tetap sesuai dengan apa yang saya mau. Saya sering menyimak salah satu program dakwah di tv, dalam program tersebut sering membawakan kisah-kisah sahabat Rasul yang menjadi inspirasi saya. Salah satu pengisi acara tersebut ialah seorang ustadzah dan aktris yang menjadi inspirasi saya dalam memilih jurusan saya berkuliah. Beliau memilih jurusan PGPAUD dikarenakan ingin generasi muda lebih terdidik, berkarakter dan juga paham mengenai agama. Saya pun berkaca pada diri sendiri, dimana saya juga merasa masih banyak kekurangan dan saya tidak ingin generasi penerus nanti malah lebih terpuruk. Saya mau tahu lebih banyak mengenai pola asuh anak yang baik agar  anak dapat menjadi pribadi berkarakter. Kemudian saya pun memilih jurusan PGPAUD UPI Kampus Tasikmalaya sebagai pilihan pertama saya, karena merupakan sebuah universitas negeri di kota saya, dan merupakan jurusan yang saya mau. Apabila saya tidak menjadi guru PAUD pun tidak apa, saya dapat menjadi ibu yang tahu cara mendidik anak-anaknya menjadi lebih baik.

Alhamdulillah Allah mengizinkan, dan kedua orangtua saya merestui saya berkuliah disini. Namun, hambatan tidaklah datang sekali. Awal saya masuk perkuliahan saya masih merasa canggung, saya harus mulai beradaptasi kembali dengan banyak orang. Hal tersebut saya lewati sedikit demi sedikit dengan menerima keadaan sekitar. Ketika saya mulai menjalani masa orientasi kampus, orangtua saya mulai berpikiran negatif, karena berkaca pada kakak saya yang juga berkuliah tapi tidak serutin yang saya alami. Saya pun menjelaskan kegiatan apa yang sedang saya ikuti. Ayah saya mengerti dengan keadaan saya, karena  beliau pun pernah menjalani pendidikan yang lebih tinggi. Sedangkan ibu saya masih khawatir, karena saya seorang perempuan.
Ketika saya masih berada di bangku sekolah menengah atas, saya sama sekali tidak mengikuti kegiatan apapun, maka dari itu saya mengikuti Himpunan Mahasiswa dari program studi PGPAUD untuk menambah pengalaman dan membangun relasi kembali. Saya juga mengikuti sebuah komunitas yang bergerak di bidang multimedia dibawah unit Seni Budaya dan Museum. Saya ikut komunitas ini karena saya senang dengan media kamera khususnya video. Di komunitas ini, saya menjadi akrab dengan dosen yang menghantarkan saya dan teman-teman saya ikut menjadi asistan Laboratorium PGPAUD, dimana didalamnya semua alat dan bahan untuk mengajar di PAUD ada. Hal tersebut membuat saya lebih semangat berkuliah. Laboratorium PGPAUD ini merupakan perintisan TK Laboratorium UPI Kampus Tasikmalaya, dan saya bangga ikut berkontribusi didalamanya. Selain itu, saya dan teman-teman dari komunitas dan asistan laboratorium PGPAUD ikut mempersiapkan pengakreditasian program studi PGPAUD. yang mana dengan itu, saya sedang ikut berkontribusi didalamnya. Walaupun harus berangkat pagi pulang malam, tapi saya senang dapat berkontribusi untuk membangun sesuatu yang bermanfaat untuk semua orang. Maka dari itu saya mengikuti Beasiswa Bazma Pertamina untuk dapat mendukung saya berkontribusi dalam pendidikan khususnya PAUD.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar